Berbicara Indah Saat Marah

Ditulis oleh KH. Shobirun Ahkam

Rabu, 27 Juli 2011 09:34

Berbicara indah ketika marah tidaklah mudah, hanya orang-orang hebat yang bisa melakukan demikian. KH Muhammad Suwaih pernah menyampaikan kajian mengenai Zaid bin Sanah (زَيْدُ بن سَعْنَةَ) dalam Muntakhob min Kanzil-Ummal. Hanya ketika itu penjelasannya sekilas, yakni hanya inti dari dari hikmahnya.

Thobaroni lah yang menjelaskan riwayat itu secara panjang dan gamblang. Intinya bahwa berbicara indah ketika marah adalah amalan orang-orang yang disertai oleh Tuhan Ar-Rohman yang bisa menundukkan lawan: المعجم الكبير للطبراني – (5 / 163) 5002- حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن عَبْدِ الْوَهَّابِ بن نَجْدَةَ الْحَوْطِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبِي ، ح وَحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن عَلِيٍّ الأَبَّارُ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن أَبِي السَّرِيُّ الْعَسْقَلانِيُّ ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بن مُسْلِمٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن حَمْزَةَ بن يُوسُفَ بن عَبْدِ اللَّهِ بن سَلامٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن سَلامٍ ، قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لَمَّا أَرَادَ هُدَى زَيْدِ بن سَعْنَةَ ، قَالَ زَيْدُ بن سَعْنَةَ : مَا مِنْ عَلامَاتِ النُّبُوَّةِ شَيْءٌ إِلا وَقَدْ عَرَفْتُهَا فِي وَجْهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، حِينَ نَظَرْتُ إِلَيْهِ إِلا اثْنَتَيْنِ لَمْ أَخْبُرْهُمَا مِنْهُ ، يَسْبِقُ حِلْمُهُ جَهْلَهُ وَلا تَزِيدُ شِدَّةُ الْجَهْلِ عَلَيْهِ إِلا حِلْمًا ، فَكُنْتُ أَلْطُفُ لَهُ لأَنْ أُخَالِطَهُ ، فَأَعْرِفَ حِلْمَهُ مِنْ جَهْلِهِ . قَالَ زَيْدُ بن َسَعْنَةَ : فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا مِنَ الْحُجُرَاتِ وَمَعَهُ عَلِيُّ بن أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، فَأَتَاهُ رَجُلٌ عَلَى رَاحِلَتِهِ كَالْبَدَوِيِّ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ بُصْرَى قَرْيَةَ بني فُلانٍ قَدْ أَسْلَمُوا ، وَدَخَلُوا فِي الإِسْلامِ ، وَكُنْتُ حَدَّثَتْهُمْ إِنْ أَسْلَمُوا أَتَاهُمُ الرِّزْقُ رَغَدًا ، وَقَدْ أَصَابَتْهُمْ سَنَةٌ وَشِدَّةٌ وقُحُوطٌ مِنَ الْغَيْثِ ، فَأَنَا أَخْشَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ يَخْرُجُوا مِنَ الإِسْلامِ طَمَعًا كَمَا دَخَلُوا فِيهِ طَمَعًا ، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُرْسِلَ إِلَيْهِمْ بِشَيْءٍ تُعِينُهُمْ بِهِ فَعَلْتَ ، فَنَظَرَ إِلَى رَجُلٍ إِلَى جَانِبِهِ أُرَاهُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا بَقِيَ مِنْهُ شَيْءٌ ، قَالَ زَيْدُ بن سَعْنَةَ : فَدَنَوْتُ إِلَيْهِ ، فَقُلْتُ : يَا مُحَمَّدُ ، هَلْ لَكَ أَنْ تَبِيعَنِي تَمْرًا مَعْلُومًا مِنْ حَائِطِ بني فُلانٍ إِلَى أَجْلِ كَذَا وَكَذَا ؟ فَقَالَ : لا يَا يَهُودِيُّ ، وَلَكِنِّي أَبِيعُكَ تَمْرًا مَعْلُومًا إِلَى أَجْلِ كَذَا وَكَذَا ، وَلا تُسَمِّي حَائِطَ بني فُلانٍ ، قُلْتُ : بَلَى ، فَبَايَعَنِي فَأَطْلَقْتُ هِمْيَانِي ، فَأَعْطَيْتُهُ ثَمَانِينَ مِثْقَالا مِنْ ذَهَبٍ فِي تَمْرٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجْلِ كَذَا وَكَذَا ، فَأَعْطَاهَا الرَّجُلَ ، فَقَالَ : اغْدُ عَلَيْهِمْ فَأَعِنْهُمْ بِهَا ، فَقَالَ زَيْدُ بن سَعْنَةَ : فَلَمَّا كَانَ قَبْلَ مَحَلِّ الأَجَلِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلاثٍ ، أَتَيْتُهُ فَأَخَذْتُ بِمَجَامِعِ قَمِيصِهِ وَرِدَائِهِ ، وَنَظَرْتُ إِلَيْهِ بِوَجْهٍ غَلِيظٍ ، فَقُلْتُ لَهُ : أَلا تَقْضِيَنِي يَا مُحَمَّدُ حَقِّي ؟ فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُكُمْ بني عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَمَطْلٌ ، وَلَقَدْ كَانَ لِي بِمُخَالَطَتِكُمْ عَلِمٌ ، وَنَظَرْتُ إِلَى عُمَرَ ، وَإِذَا عَيْنَاهُ تَدُورَانِ فِي وَجْهِهِ كالْفَلَكِ الْمُسْتَدِيرِ ، ثُمَّ رَمَانِي بِبَصَرِهِ ، فَقَالَ : يَا عَدُوَّ اللَّهِ أَتَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَسْمَعُ ، وَتَصْنَعُ بِهِ مَا أَرَى ، فَوَالَّذِي بَعَثَهُ بِالْحَقِّ لَوْلا مَا أُحَاذِرُ فَوْتَهُ لَضَرَبْتُ بِسَيْفِي رَأْسَكَ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ إِلَى عُمَرَ فِي سُكُونٍ وتُؤَدَةٍ ، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ ، أَنَا وَهُوَ كُنَّا أَحْوَجَ إِلَى غَيْرِ هَذَا ، أَنْ تَأْمُرَنِي بِحُسْنِ الأَدَاءِ ، وتَأْمُرَهُ بِحُسْنِ التِّبَاعَةِ ، اذْهَبْ بِهِ يَا عُمَرُ وأَعْطِهِ حَقَّهُ وَزِدْهُ عِشْرِينَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ مَكَانَ مَا رَوَّعْتَهُ ، قَالَ زَيْدٌ : فَذَهَبَ بِي عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، فَأَعْطَانِي حَقِّي ، وَزَادَنِي عِشْرِينَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الزِّيَادَةُ يَا عُمَرُ ؟ فَقَالَ : أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَزِيدَكَ مَكَانَ مَا رَوَّعْتُكَ ، قُلْتُ : وتَعْرِفُنِي يَا عُمَرُ ؟ قَالَ : لا ، مَنْ أَنْتَ ؟ قُلْتُ : أَنَا زَيْدُ بن سَعْنَةَ ، قَالَ : الْحَبْرُ ، قُلْتُ : الْحَبْرُ ، قَالَ : فَمَا دَعَاكَ أَنْ فَعَلْتَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا فَعَلْتَ وَقُلْتَ لَهُ مَا قُلْتَ ؟ قُلْتُ : يَا عُمَرُ ، لَمْ تَكُنْ مِنْ عَلامَاتِ النُّبُوَّةِ شَيْءٌ إِلا وَقَدْ عَرَفْتُهُ فِي وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ نَظَرْتُ إِلَيْهِ إِلا اثْنَتَيْنِ لَمْ أَخْبُرْهُمَا مِنْهُ ، يَسْبِقُ حِلْمُهُ جَهْلَهُ ، وَلا يَزِيدُهُ الْجَهْلُ عَلَيْهِ إِلا حِلْمًا ، فَقَدْ أُخْبِرْتُهُمَا ، فَأُشْهِدُكَ يَا عُمَرُ أَنِّي قَدْ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا ، وَأُشْهِدُكَ أَنَّ شَطْرَ مَالِي وَإِنِّي أَكْثَرُهَا مَالا صَدَقَةٌ عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ . فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ : أَوْ عَلَى بَعْضِهِمْ ، فَإِنَّكَ لا تَسَعُهُمْ . قُلْتُ : أَوْ عَلَى بَعْضِهِمْ ، فَرَجَعَ عُمَرُ وَزَيْدٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ زَيْدٌ : أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَآمَنَ بِهِ وَصَدَّقَهُ وَبَايَعَهُ وَشَهِدَ مَعَهُ مَشَاهِدَ كَثِيرَةً ، ثُمَّ تُوُفِّي زَيْدٌ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ مُقْبِلا غَيْرَ مُدْبِرٍ ، رَحِمَ اللَّهُ زَيْدًا Artinya (selain) isnadnya:

Dari Abdullah bin Salam: Sungguh ketika Allah telah menghendaki memberi hidayah pada Zaid bin Sanah; Zaid bin Sanah berkata, “Tiada satupun dari tanda-tanda kenabian kecuali pasti telah kusaksikan di wajah Rasulillah SAW ketika saya mengamatinya.

Hanya dua tanda kenabian yang belum pernah saya saksikan dari beliau:

1), kearifannya mengalahkan kebodohannya,

2), kebodohan orang yang mestinya membuat dia murka, justru menambah dia bijaksana.

Saya telah mengadakan pendekatan agar bisa akrab dengan beliau, agar bisa menyaksikan kearifannya yang jauh dari kebodohan.” Zaid bin Sanah melanjutkan, “Pada suatu hari Rasulullah SAW keluar dari kamarnya didampingi oleh Ali bin Abi Thalib RA. Tiba-tiba seorang mirip orang pedesaan datang menghadap beliau untuk berkata ‘ya Rasulallah sungguh penduduk Bani fulan yang tinggal di desa Bushra telah Islam dan memperdalam Islam’. Saya telah bercerita pada mereka ‘jika kalian Islam, rizqi yang luas akan datang pada kalian’. Namun kenyataannya mereka justru telah terlanda paceklik dan hujan belum juga mengguyur mereka. Saya khawatir mereka akan keluar dari Islam karena kecewa tidak mendapatkan yang diharapkan. Jika engkau setuju silahkan mengirimkan sumbangan untuk membantu mereka’.

Beliau SAW mengamati seorang yang berada di sisinya (setahuku dia adalah Ali RA). Lelaki itu berkata ‘ya Rasulallah tak ada sedikitpun yang tersisa’. (Mungkin yang dimaksud isi kas Baitul-Mal).” Zaid bin Sanah segera mendekati nabi untuk berkata, “Ya Muhammad, setujukah kau jika membeli kurma saya yang sekarang masih di kebun Bani fulan dengan pembayaran tempo yang dimaklumi dengan harga sekian dan sekian?.” Nabi SAW bersabda, “Tidak bisa hai orang Yahudi, mau saya: saya membeli kurmamu dengan harga tertentu dengan pembayaran tempo yaitu begini dan begini (maksudnya waktu pelunasannya), yang kamu sebut jangan hanya kurma kebun Bani fulan (karena timbangannya belum jelas)!.”

Zaid bin Sanah berkata, “Okelah,” lalu airmatanya mengalir. Zaid bin Sanah bergerak cepat untuk membelikan kurma dengan timbangan tertentu dan tempo pelunasan begini dan begini seharga 80 Mitsqal emas, lalu diberikan pada nabi SAW.

Nabi menyerahkan kurma itu pada lelaki yang di sisi beliau sambil bersabda, “Meruputlah untuk mengantarkan ini untuk menyumbang mereka!.” Zaid bin Sanah berkata, “Ketika tempo pelunasan telah mendekati dua atau tiga hari, saya datang untuk memegang gamis dan selendang nabi SAW, saya sengaja memandang wajah beliau dengan garang.

Saya berkata ‘hai Muhammad, kenapa hutangku tidak segera kau lunasi?. Demi Allah setahu saya kau sebagai keluarga besar Abdul-Mutthalib (عَبْدِ الْمُطَّلِبِ) tidak suka menunda pelunasan hutang. Saya tahu itu karena telah sering bergaul dengan kalian’.

Setelah saya mengamati Umar, ternyata matanya melotot di wajahnya bagaikan bola bulat. Umar melemparkan pandangan bengisnya pada saya lalu berkata ‘hai musuh Allah!, masyak kamu berani mengatakan tidak senonoh yang kudengar pada Rasulallah SAW?. Kamu berani melakukan perbuatan demikian di depan mataku?. Demi yang telah mengutus beliau dengan hak, kalau saya tidak khawatir disalahkan oleh beliau, kepalamu telah saya belah dengan pedangku’; saat itu Rasulullah SAW diam mengamati Umar dengan berwibawa.

Beliau bersabda ‘hai Umar, sejak sebelum ini kami berdua justu lebih membutuhkan selain ini perlakuan:

1), perintahlah saya agar memperindah pelunasan,

2) perintahlah dia agar memperindah penagiahan.

Hai Umar, bawalah dia pergi dan lunasilah piutangnya, dan tambahilah 20 kurma untuk mengobati ketakutannya karena telah kau gertak’.[1]

Saya bertanya ‘kok ada tambahan ya Umar?’.

Umar menjawab ‘Rasulullah telah perintah agar saya memberi tambahan padamu sebagai obat kau telah saya buat ketakutan dengan gertakan’.

Zaid bin Sanah bertanya ‘kau kenal saya hai Umar?’.

Dia menjawab ‘tidak, siapa kamu?’.

Saya menjawab ‘Zaid bin Sanah (زَيْدُ بن سَعْنَةَ)’.

Umar bertanya ‘si chaber (الْحَبْرُ) itu?’. Maksudnya orang alim itu?.

Saya menjawab ‘ya sayalah si chaber itu’.

Umar bertanya ‘apa yang mendorongmu melakukan dan mengatakan yang tidak senonoh pada Rasulillah SAW?’.

Saya menjawab ‘ya Umar, tiada satupun dari tanda-tanda kenabian kecuali pasti telah kusaksikan di wajah Rasulillah SAW ketika saya mengamatinya. Hanya dua tanda kenabian yang belum pernah saya saksikan dari beliau:

1), kearifannya mengalahkan kebodohannya,

2), kebodohan orang yang mestinya membuat dia murka, justru menambah dia bijaksana.

Karena kini saya telah berhasil membuktikan dua hal tersebut, maka saya mempersaksikan padamu ya Umar bahwa saya benar-benar telah ridho bertuhan Allah, beragama Islam, dan bernabi Muhammad SAW.

Saya juga mempersaksikan padamu bahwa setengah dari hartaku kushodaqohkan untuk umat Muhammad, sayalah yang lebih banyak hartanya’. Umar mengarahkan ‘mbok untuk sebagian mereka saja. Kau tak mungkin menshodaqohi mereka semuanya’.

Saya setuju ‘ya untuk sebagian mereka’.” Umar dan Zaid bin Sanah kembali menghadap Rasulallah SAW. Zaid bin Sanah berkata, “Asyhadu an laa Ilaaha illaa Allah wa asyhadu anna Muhammadan abdu-Hu wa Rasulu-H SAW.”

Zaid bin Sanah beriman mempercayai dan berbai’at pada nabi SAW. Bahkan mengikuti beliau SAW dalam sejumlah acara penting yang banyak.

Akhirnya Zaid bin Sanah diwafatkan dalam Perang Tabuk dalam keadaan Islam. Semoga Allah merahmati Zaid bin Sanah. Dipastikan nabi tersinggung dan marah oleh ucapan dan perlakuan Zaid bin Sanah, tetapi beliau justru bersabda indah.

Nabi SAW membiasakan berbuat demikian ini mulai kecil hingga wafat. Oleh karena itu musuh-musuh yang tadinya benci setengah mati berubah total menjadi cinta-mati-matian. Adakah musuh nabi yang yang bersikeras mempertahankan kebenciannya pada beliau?.

Jawabannya, “Tak satupun manusia, kecuali yang dikodar mati sebelum menyadari bahwa akhlaqnya SAW jauh lebih indah daripada mutiara paling indah. Yakni sebelum nabi menaklukkan penduduk Makkah tahun 8 Hijriyah.

Dipastikan jika mutiara terindah didunia dipamerkan di pertengahan ribuan orang, takkan membuat mereka menangis karena terkesima dan bahagia. Tetapi RASULULLAH telah membuat bangsa Quraisy lebih dari terkesima oleh ampunan dan akhlaqnya.

Karena beliaulah yang mestinya membanjiri kota Makkah dengan darah penduduknya yang telah membuat hidupnya tertekan dan menderita selama 21 tahun; mereka pun sadar karena saat itu telah terjebak oleh kekuatan dahsyat yang bisa mematikan.

Ampunan beliau untuk mereka di Fatchu Makkah membuat seakan-akan mereka membumbung kelangit; atau bagaikan menghidupkan mereka yang telah tewas oleh tebasan pedang.

Makkah yang mestinya banjir darah; ternyata justru banjir ampunan dan anugrah sehingga penduduknya menumpahkan air mata bahagia.” [1] Kalimat akhir ini diketahui olehnya setelah diberi tahu oleh Umar.

Tulisan ini bisa dicari di: http:http://mulya-abadi.blogspot.com/2011/07/berbicara-indah-saat-marah.html atau: http://www.mulungan.org/index.php/component/content/article/43-artikel-umum/257-2011-07-berbicara-indah-saat-marah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: