Cara Murah Bermain Golf

Persepsi luas yang melihat golf sebagai sebuah olahraga mahal hingga sekarang masih melekat kuat di sebagian masyarakat. Persepsi ini bisa dimengerti. Karena selama ini para pegolf yang datang ke padang-padang golf, selalu mengendarai kendaraan pribadi. Dan di Indonesia, setiap orang yang memiliki kendaraan pribadi, masih dianggap sebagai anggota kelompok masyarakat berpunya, berstatus sosial yang lebih tinggi atau masuk kategori kelas menengah. Belum lagi, kalau melihat ada pegolf yang datang ke padang golf memang sengaja ”pamer”, mulai dari pamer kendaraan, pamer pakaian, sampai dengan pamer asesoris. Maka bagi orang yang tidak mengerti esensi secara benar tentang golf, makin lengkap dan bertambah kuatlah kesan tersebut bahwa golf memang sebuah kegiatan yang mahal!

Keberadaan golf di Indonesia memang belum lagi seperti di negara-negara seperti Inggeris, Amerika atau Australia. Di mana yang dijadikan ukuran untuk menilai seorang pegolf adalah melalui penampilan luarnya. Yakni dari kendararaan yang digunakannya ke padang golf, merek stik dan tas golf yang dikeluarkan dari bagasi kendaraan, serta pakaian yang dikenakan hingga asesoris yang sebetulnya tidak terlalu diperlukan. Dan ironisnya, berhubung belum ada pegolf senior yang bersedia (berani) memberikan sosialisasi tentang hal ini, maka persepsi keliru ini, makin dianggap sebagai sesuatu yang benar. Padahal untuk menilai apakah seseorang itu betul-betul seorang pegolf, semestinya harus dilihat dari kemampuannya bermain atau pada angka berapa handicap-nya bertengger. Juga ketika ia bermain di lapangan, sejauh mana ia mempraktekkan tata cara yang sesuai dengan aturan. Termasuk etika. Di tiga negara yang disebutkan di atas, di mana golf sudah merupakan olahraga masyarakat luas, tidak semua pegolf yang ingin main golf lantas selalu datang ke padang golf dengan mengendarai kendaraan pribadi. Mereka datang ke padang golf cukup mengendarai kendaraan umum : taksi, bis bahkan kereta api. Ketika melakukan tee off, mereka tidak dilayani oleh caddy. Semuanya dilakukan sendiri, secara mandiri. Soalnya golf sudah begitu merakyat.

Di daerah Queensland, Australia, misalnya, kawasan pantai yang paling banyak disinari matahari sepanjang tahun dan juga terkenal sebagai kawasan wisata yang memiliki banyak padang golf, bukan hanya mereka yang ”berkerah putih” atau ”white collar” yang sering kelihatan bermain golf. Tapi juga termasuk para sopir taksi , pengemudi bis, ataupun buruh bangunan. Sopir-sopir taksi di Queesland, rata-rata menyimpan atau membawa beberapa perangkat golf di kendaraannya. Seperti sebuah ”driver”, kayu nomor lima, besi nomor lima, tujuh, pitching, sand wedge dan putter. Oleh karena itu bila anda berada di Queensland, jangan kaget jika anda berjumpa dengan sopir taksi, yang mempunyai handicap ”single”. Sopir taksi seperti itu, bisa mempunyai handicap ”single”, karena ia memainkan golf sebagai salah satu kegiatan hidupnya. Manakala sepi penumpang dan kebetulan berada di sekitar padang golf umum, sopir tersebut langsung saja memarkir kendaraannya di club house, lalu membayar green fee dan bermain 9 hole atau lebih. Karena kegiatan ini menjadi rutin, maka jadilah ia seorang sopir sekaligus pegolf.

Masih di negara seperti Australia, seorang sopir taksi yang menjemput tamu asing di bandara atau hotel, tiba-tiba saja menjadi ramah dan bersahabat, ketika ia ikut menggotong tas yang berisikan stik golf ke dalam bagasi. Keramahan itu ia perlihatkan melalui sapaan kata-kata simpatik seperti : ”Berapa handicap tuan?” atau ”….wah ini hari yang baik untuk golfing”. Kemudian sebelum berpisah, ia masih memberi informasi di mana lapangan golf yang bagus dan menutupnya dengan: ”semoga tuan main bagus”. Situasi mana tidak akan pernah atau jarang sekali kita temui di Indonesia. Seorang sopir taxi (di Indonesia) yang mengangkut penumpang dengan bagasi stik golf, boleh jadi akan berfikir lain. Dalam beberapa hal, memang ada benarnya golf sebagai sebuah kegiatan olahraga yang mahal. Betapa tidak, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi pegolf, maka biasanya yang dia lakukan pergi ke toko golf. Celakanya lagi, kalau ia pergi sendirian dan tanpa minta saran dari rekan yang sudah menekuni golf. Maka ketika tiba di toko golf yang dia tanyakan adalah mana stik golf yang paling baru. Atau mana yang paling mahal. Mana yang dipakai oleh para juara. Si penjual pun pasti sudah tahu, bahwa calon pembeli tersebut, seorang pegolf yang belum bisa main golf. Bila kebetulan di toko tersebut ada stik seperti yang ditanyakan, maka jadilah si pegolf (baru) ini sebagai penyebar persepsi yang keliru tentang cara bermain golf (yang murah). Bisa dibayangkan, kalau seseorang yang duitnya tidak punya seri dan sangat menjaga penampilan dan gengsi pribadi, lalu ditawari sebuah stik – katakanlah – merek ”Honma” (Jepang), bintang lima. Ditambah dengan bumbu-bumbu si penjual, maka stik golf berharga di atas Rp. 100,- juta itu, serta merta langsung dibeli.

Padahal permainan golf tidak ditentukan oleh mahal tidaknya sebuah stik. Stik yang baru juga bukan jaminan. Stik golf yang murah dan bekas, tidak serta merta tak akan cocok bagi pemula atau pun para pegolf handal ber-handicap ”single”. Di Jakarta atau Indonesia pun sebetulnya banyak stik murah, bekas yang masih sangat layak untuk digunakan oleh pegolf.

Di toko-toko golf yang khusus menjual stik-stik bekas, sebuah perangkat golf lengkap bahkan ada yang bisa dibeli dengan harga di bawah Rp. 1,- juta. Coba bandingkan perlengkapan ini dengan yang diperlukan oleh seorang pamin bulutangkis atau tennis.

Bola golf memang relatif mahal. Tapi untuk pemula, menggunakan bola-bola bekas pun sangat dianjurkan. Bola bekas yang berharga Rp3.000-an banyak dijual di setiap hole oleh para ”retailer” bola bekas. Di sini jelas bedanya antara bola golf dan bola tennis atau bulutangkis. Bola golf bisa dipakai sampai bulanan atau tahunan, sepanjang bola tersebut tidak hilang atau masuk kolam air atau hutan berular.
Dan masih banyak lagi cara lain yang bisa dilakukan, sehingga siapapun bisa memainkan golf dengan cara (harga) murah. Kuncinya tergantung pada anda sendiri. Sama halnya dengan permainanan golf sendiri. Skor yang bisa kita cetak, bukan tergantung pada orang lain, lawan main, melainkan pada diri kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: