Menghindari Salah Paham

Salah paham…., tidak ada seorang pun di dunia ini yang suka disalah pahami. Namun, yang kerap terjadi adalah bahwa kitalah yang sering salah paham terhadap orang lain. Salah paham mungkin terdengar sederhana, namun hal ini sebenarnya merupakan jenis fitnah yang terselubung. Seperti yang kita ketahui bersama, fitnah itu lebih kejam dari pada membunuh. Selain kebencian, salah paham juga merupakan akar dari fitnah. Salah paham mengandung pengertian dan persepsi yang salah tentang orang lain, suatu kondisi, atau suatu hal. Salah paham menimbulkan prasangka yang salah. Bila salah paham dibiarkan/ tidak dikonfirmasikan kepada yang bersangkutan, maka hal itu dapat membuat nama seseorang tercemar/ tercoreng atau bisa membuat sebuah masalah tidak terselesaikan dengan baik dan benar.

Lihatlah di sekitar kita, ada berapa banyak kasus perceraian yang terjadi akibat salah paham. Istri menganggap suami selingkuh hanya karena seorang rekan kerja wanita menelepon suaminya. Suami memarahi istri karena merasa istri terlalu mencampuri urusan kerjanya, padahal sang istri hanya berniat untuk membantu. Orang tua berpikir anaknya tidak patuh ketika menolak masuk ilmu kedokteran, padahal sang anak ingin menjadi pilot. Anak sering salah paham dan berpikir para orang tua mengekang mereka, padahal orang tua hanya ingin melindungi anaknya.

Harus diakui bahwa kita sering salah paham terhadap maksud baik orang lain, hanya karena kita mendengarkan informasi yang sepotong-sepotong. Hukum alam juga berlaku dalam hidup manusia. Apa yang kita tabur, itu juga lah yang akan kita tuai.

Seorang petani yang menabur jagung, tidak akan menuai semangka. Jika kita sering salah paham terhadap orang lain, maka kita pun akan mendapat balasannya.

 

Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya salah paham, ada baiknya kita belajar sabar, netral (tidak cepat menyimpulkan/ menghakimi), dan mendengarkan. Mendengarkan sebenarnya merupakan komunikasi yang lebih efektif dari pada berbicara. Banyak orang di dunia ini memiliki kemampuan yang baik dalam berbicara, namun sedikit yang mampu dan mau mendengarkan orang lain.

Mendengarkan penjelasan/ sudut pandang orang lain menuntut kesabaran yang tinggi, namun orang yang mampu mendengarkan orang lain adalah orang yang berbahagia, karena dia pasti memperoleh upahnya, yaitu penghargaan.

Wanita, Anda ingin dihargai suami, anak-anak, dan orang lain?!

Dengarkanlah mereka, hargailah perbedaan yang ada, dan sedapat mungkin penuhilah kebutuhan mereka. Seorang wanita yang demikian menunjukkan bahwa dia mampu menghargai orang lain tanpa bersikap egois, maka dia akan menuai hasilnya, yaitu kasih dan penghargaan dari sesama. (bbl/meg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: