Dumai Pintu Masuk Utama Narkoba

Pekanbaru, 20 Juni 2010 16:14
Kota Dumai, Riau, kini telah menjelma menjadi pintu masuk utama narkotika dan obat-obatan terlarang atau narkoba yang berada di Pulau Sumatera dengan melibatkan sindikat peredaran internasional di dalam negeri.

“Kita sangat prihatin melihat perkembangan terakhir bahwa pelabuhan di Dumai telah menjadi pintu masuk utama pintu masuk sekaligus tempat transit narkoba dari luar negeri,” ujar Kepala Badan Narkotika Provinsi Riau, Mambang Mit, di Pekanbaru, Minggu (20/6).Berdasarkan data dan fakta di lapangan, dalam kurun waktu enam bulan terakhir instansi terkait Bea dan Cukai serta kepolisian di Dumai berhasil mengamankan kiloan gram narkoba jenis shabushabu yang dibawa masuk melalui jalur laut dengan menumpang kapal feri dari Malaysia.

Penangkapan dilakukan pada 31 Januari 2010 , pihak Polresta Dumai bersama Bea dan Cukai menggagalkan upaya penyelundupan shabushabu sebesar 174 gram senilai Rp 348 juta, yang dibawa seseorang berinisial “MR”, warga Pekanbaru.

Sehari kemudian aparat kepabeanan kembali menggagalkan penyeludupan ekstasi sebanyak 1.000 butir dan 107 gram ketamine dengan total senilai Rp 3,2 miliar yang dibawa seorang pria berinisial “ES”, warga Bagansiapi-api.

Lantas, pada 12 Februari 2010, kembali penyelundupan shabushabu seberat 3,252 kilogram senilai Rp 6 miliar yang dibawa lelaki warga negara Indonesia bernama Razali Puteh juga berhasil digagalkan, kemudian pada 30 Mei seorang tersangka pembawa 3,25 kilogram opium (bahan dasar pembuat shabushabu) senilai 6,5 miliar juga berhasil diamankan.

Terakhir kali pada 11 Juni 2010, petugas Bea dan Cukai menggagalkan upaya penyeludupan shabushabu seberat enam kilogram senilai Rp 12 miliar berikut seorang kurir pria.

“Dengan kondisi yang demikian itu, kita berharap polisi juga bisa mengusut tuntas jaringan berikut siapa saja pelaku yang terlibat terutama mereka yang ada di Riau, karena mustahil barang itu bisa masuk tanpa ada aktor utama di Riau,” ujar Mambang Mit .

Sebelumnya, Kapolresta Dumai AKBP Hersadwi Hendarso mengaku kesulitan mengungkap jaringan internasional peredaran narkoba khususnya di Kota Dumai karena masih minimnya partisipasi masyarakat lokal dalam memburu pelaku utama dari jaringan yang ada.

“Hanya segelintir warga yang mau menginformasikan kepada kami mengenai peredaran narkoba di masyarakat dengan dua sampai lima kasus pengaduan barang haram itu, padahal untuk memberantas narkoba tidak bisa sepenuhnya dilakukan polisi tanpa melibatkan semua elemen masyarakat,” ujarnya. [EL, Ant]

http://gatra.com/artikel.php?id=138874

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: