Baharudin ‘Mr krack’ Habibie Hidup dari Royalti

JAKARTA – Sebuah majalah Teknologi terbitan Jakarta pernah menyebut Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai “Manusia Multidimensional”.

Sebutan ini ternyata sangat disukai Habibie. Terlebih, julukan itu muncul tidak berselang lama setelah meraih medali penghargaan “Theodore van Karman”. Ya, anugrah bergengsi di tingkat internasional tempat berkumpulnya pakar-pakar terkemuka konstruksi pesawat terbang.Habibie juga dikenal sebagai “Mr krack” karena keahliannya menghitung krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, para ahli dirgantara mengenal apa yang disebut Teori Habibie, Faktor Habibie, Fungsi Habibie.

Sebelum titik krack bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantispasi kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor keselamatannya (SF). Caranya, meningkatkan kekuatan bahan konstruksi jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya.

Akibatnya, material yang diperlukan lebih berat. Untuk pesawat terbang, material aluminium dikombinasikan dengan baja. Namun setelah titik krack bisa dihitung maka derajat SF bisa diturunkan. Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang. Dalam dunia penerbangan, terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie.

Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10 persen dari bobot sebelumnya. Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25 persen setelah Habibie menyusupkan material komposit ke dalam tubuh pesawat.

Namun pengurangan berat ini tak membuat maksimum take off weight-nya (total bobot pesawat ditambah penumpang dan bahan bakar) ikut merosot. Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh. Sehingga secara ekonomi, kinerja pesawat bisa ditingkatkan.

Faktor Habibie ternyata juga berperan dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian kerangka pesawat. Sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara saat tubuh pesawat lepas landas. Begitu juga pada sambungan badan pesawat dengan landing gear jauh lebih kokoh, sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat. Faktor mesin jet yang menjadi penambah potensi fatique menjadi turun.

Memang Habibie memegang banyak hak paten atas temuan di bidang konstruksi pesawat terbang, sehingga menjamin hidupnya rutin memperoleh uang royalti. Tak hanya itu, dalam disiplin ekonomi makro pernah dikenal istilah Habibienomics. Semacam pemahaman yang menegaskan bagaimana gagasan Habibie tentang pemberian nilai tambah ekonomi tinggi di setiap produksi barang dan jasa melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kejeniusan mantan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) semakin kelihatan encer ketika berhasil meraih gelar doctor ingenieur dengan predikat suma cum laude pada 1965. Rata-rata nilai mata kuliah Habibie 10. Presatsi ini mengantarkan Habibie menjadi Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Analisis Struktur di Hamburger Flugzeugbau (HFB).(ram)

Otak Habibie Pernah Digunakan Fokker
JAKARTA – Berkat prestasinya yang gemilang, Bacharuddin Jusuf Habibie dipercaya menjadi Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Analisis Struktur di Hamburger Flugzeugbau (HFB).

Kala itu tugas utamanya adalah memecahkan masalah kestabilan konstruksi bagian belakang pesawat Fokker 28. Hebatnya, hanya dalam kurun waktu 6 bulan, persoalan tersebut mampu dipecahkan mantan Presiden RI ini.

Karier Habibie yang dikenal sangat keras dengan keyakinan prinsip yang dipegangnya ini, terus menanjak setelah meraih kepercayaan mendesain utuh sebuah pesawat baru. Buah karyanya adalah prototipe DO-31, pesawat baling-baling tetap pertama yang mampu tinggal landas dan mendarat secara vertikal, yang dikembangkan HFB bersama industri Donier.

Badan Penerbangan dan Luar Angkasa Amerika Serikat (NASA) akhirnya membeli pesawat rancangan Habibie. Pria kelahiran Pare-pare yang bertubuh kecil dan berotak jenius ini kemudian dilirik oleh Messerschmitt Boelkow Blohm Gmbh (MBB). Yakni, sebuah industri pesawat terbesar yang bermarkas di Hamburg.

Karier Habibie di MBB terus melambung. Jabatan Vice President/Direktur Teknologi MBB disabetnya tahun 1974. Hanya Habibie-lah, orang diluar kebangsaan Jerman yang mampu menduduki posisi kedua tertinggi itu.

Di MBB inilah mantan Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT selama kurang lebih 20 tahun dan membawahi 10 perusahaan BUMN industri strategis, menyusun rumusan asli di bidang termodinamika, konstruksi ringan, aerodinamika dan krack progression. Dalam literatur ilmu penerbangan, temuan-temuan Habibie ini lantas dikenal dengan nama Teori Habibie, Faktor Habibie dan Metode Habibie.

Paten dari semua temuan itu telah diakui dan dipakai oleh dunia penerbangan internasional. Pesawat Airbus A-300 yang diproduksi konsorsium Eropa (European Aeronautic Defence and Space) tak lepas dari sentuhan Habibie yang sangat menonjol dalam hal pelajaran – pelajaran eksakta.

Prestasi keilmuan dari mantan Presiden RI ketiga ini adalah mendapat pengakuan di dunia internasional. Mantan Ketua ICMI ini juga menjadi anggota kehormatan berbagai lembaga di bidang dirgantara.

“Pemikiran dan karya Habibie banyak diakui dunia. Dan teknologi Indonesia saat itu sudah cukup maju,” ungkap mantan Ketua Serikat Pekerja PT Dirgantara Indonesia, Arif Minardi, ketika dikonfirmasi okezone, Senin (14/6/2010).

Menurut Arif, Habibie setelah dipanggil pulang ke Indonesia tidak hanya mengebangkan sejumlah pesawat terbang, tapi merambah ke pembuatan satelit dan ruang angkasa, serta peluru kendali (rudal).

Kejeniusan dan prestasi inilah yang mengantarkan Habibie diakui lembaga internasional di antaranya, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat).

Sementara itu penghargaan bergensi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

Karya:
1. Vertical Take Off & Landing (VTOL),Pesawat Angkut DO-31
2. Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130
3. Hansa Jet 320 (Pesawat Eksekutif)
4. Airbus A-300 (untuk 300 penumpang)
5. CN – 235
6. N-250
7. Secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain, Helikopter BO-105, Multi Role Combat Aircraft (MRCA), serta beberapa proyek rudal dan satelit.(ram)

2 Tanggapan

  1. Ironis. Di sisi lain ada putra terbaik Indonesia yang mampu mengangkat Indonesia di bidang Pesawat Terbang, tapi di sisi lain sarana transportasi udara di indonesia masih banyak permasalahan. Contoh kecil, banyaknya pesawat militer yang tak layak pakai, Pesawat umum yang sudah tua sehingga banyak terjadi kecelakaan. Memang tak ada hubungannya dengan Pak Habibie, tapi Ironis saja.😀

  2. Salam.Ya trims infonya,
    bangga punya orang kayak Habibi! Sekadar bangga tapi jadi sedih kalau liat teknologi di Indonesia masih terseok-seok!
    Indonesia, kapan kau jaya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: