PERANG DUNIA DAN KELAHIRAN PASUKAN KHUSUS

Menurut pengertiannya, pasukan khusus adalah unit pasukan kecil yang bergerak secara rahasia, dengan cara-cara dan dalam medan yang tidak konvensional, serta berisiko tinggi. Unit ini dirancang untuk melakukan operasi-operasi rahasia yang vital, namun minim publikasi. Penyusupan, serangan mendadak, kerahasiaan, menjadi ciri utama dari tim ini, di samping kecepatan mereka dalam menyerang dan menyelamatkan diri sehingga tidak jarang unit-unit seperti itu bergerak dalam jumlah yang sangat kecil–bahkan hampir secara individual.

Dengan pengertiannya yang luas tersebut, sebenarnya apa yang disebut sebagai pasukan khusus telah ada sejak lama. Jauh sebelum Perang Dunia II kita bisa menemukan kesatuan-kesatuan tentara yang memiliki tugas dan sifat yang mendekati definisi pasukan khusus yang kita kenal sekarang. Pada masa-masa kuno, misalnya, seorang Raja dari Sisilia telah memiliki sejumlah kecil pasukan yang dirancang khusus untuk melakukan serangan-serangan dadakan. Sementara pada masa Perang Salib, pasukan Kristen juga memiliki unit-unit kecil yang efektif seperti pasukan Templar dan Hospitaller. Sementara dari kawasan Asia, pasukan ninja Jepang juga mengemban tugas dan memiliki sifat yang seperti itu; bergerak bahkan hampir secara individual, menyusup, dan kemudian sebisa mungkin menyelamatkan diri dari kejaran musuh.

Dalam konteks Indonesia sendiri, apa yang disebut sebagai korps pasukan khusus sebenarnya bukan sesuatu yang asing dan telah memiliki akar sejarah hingga ke zaman kerajaan-kerajaan Nusantara. Pada masa Majapahit, kerajaan ini memiliki pasukan Bayangkara yang merupakan kumpulan para perwira elit nan sakti. Selain itu, Majapahit juga memiliki korps pasukan bergajah yang dikomandoi oleh Adipati Wilwatikta dari Tuban yang terkenal itu.

Pada masa yang lebih modern, Perang Dunia I, Italia memperkenalkan salah satu cikal-bakal pasukan khusus yang bernama Arditi. Reparti d’assalto (unit penyerangan) yang berjumlah 27 batalion ini, pertama kali dibentuk oleh Kolonel Bassi dengan tujuan melakukan serangan mendadak dan memutus rantai pertahanan musuh serta mempersiapkan jalan bagi masuknya pasukan infanteri. Berkat unit kecil ini, sedikit banyak perang kubu yang merupakan ciri dari Perang Dunia I berubah menjadi lebih dinamis.

Melihat bentuk dan sifat pergerakannya, kita dapat menganggap pasukan Arditi ini sebagai induk dari pasukan khusus modern seperti yang lazim kita kenal sekarang. Pada masa itu, Arditi telah memiliki struktur yang terpisah dan tidak dianggap sebagai pasukan infanteri. Selain itu, mereka juga menerima pelatihan strategis tingkat lanjut, mendapat senjata terbaik dan paling mutakhir, serta memiliki seragam tersendiri.

Namun, seperti halnya tank, paradigma baru dalam penggunaan pasukan khusus barangkali baru dimulai pada perang Dunia II. Atau jika pun tidak demikian, katakanlah bahwa kesadaran para pemimpin militer akan arti penting pasukan seperti itu mencapai puncaknya pada Perang Dunia II sehingga kemudian banyak negara membentuk unit-unit kecil yang bisa memenuhi tuntutan perkembangan keadaan dan strategi. Jerman, Inggris, Prancis, Italia, dan negara-negara lain yang terlibat dalam perang, berlomba-lomba membentuk unit-unit kecil penyusup yang mampu menimbulkan kekacauan di garis pertahanan lawan.

Italia, misalnya, lagi-lagi negara ini memelopori berdirinya suatu unit pasukan baru yang tidak konvensional. Namun kali ini bukan di darat, melainkan di laut–tepatnya, bawah laut. Adalah dua orang teknisi muda angkatan laut Italia Letnan Muda Teseo Tesei dan Elios Toshci yang memiliki gagasan pembentukan pasukan ini. Pada tahun 1935, keduanya mengajukan rencana pada markas besar angkatan laut Italia untuk membuat torpedo jarak jauh yang bisa dikendarai manusia. Prinsipnya, torpedo yang digerakkan dengan baterai ini akan dikendarai manusia dan setelah dekat dengan kapal musuh si pengendara harus melepaskan ujung torpedo yang memiliki bahan peledak dan kemudian melekatkannya ke badan kapal musuh.

Usulan keduanya diterima oleh para petinggi militer Italia dan kemudian dibentuklah unit pasukan selam atau manusia katak yang pertama di dunia. Untuk menjalankan aksinya, para manusia katak ini dilengkapi dengan pakaian karet yang kedap air, masker, dan tabung oksigen.

Dan, agar bisa bergerak lebih cepat, mereka juga dilengkapi semacam sepatu karet yang berbentuk kaki katak seperti lazimnya sepatu renang yang sering kita lihat sekarang ini.
Temuan baru ini terbukti efektif, sampai-sampai angkatan laut Sekutu dibuat pusing oleh korps manusia katak ini. Korps pasukan katak ini berhasil menerobos berbagai pelabuhan dan pangkalan militer angkatan laut negara-negara Sekutu dan kemudian meledakkan kapal-kapal yang ada di sana.

Salah satu keberhasilan besar para manusia katak ini adalah menerobos pelabuhan Gibraltar di Spanyol yang pada saat itu terkenal dengan sistem pertahanannya yang kuat. Letnan Visintini, komandan pasukan katak Italia dalam serangan itu, berhasil menenggelamkan tiga kapal Inggris tanpa kehilangan satu pun anggota pasukannya.

Kesuksesan misi pertama ini segera disusul dengan kesuksesan-kesuksesan lain. Namun, pihak Sekutu pun segera mengadakan antisipasi dan mulai mencari tahu seluk beluk manusia katak ini. Beberapa saat setelahnya, Inggris berhasil membentuk pasukan kataknya sendiri dan malah berhasil menghantam Italia dengan temuannya sendiri itu. Dan, karena dipandang efektif, maka banyak negara yang kemudian menirunya. Hingga saat ini, hampir semua angkatan laut di dunia memiliki unit semacam ini.
Kisah penyusupan unit pasukan kecil yang memiliki daya hancur luar biasa bukan hanya milik Italia. Jerman, yang merupakan sekutu Italia pada Perang Dunia II, juga pernah melakukan hal serupa. Unit-unit kecil pasukan Jerman juga berhasil menerobos jauh ke dalam garis pertahanan musuh dan sukses melakukan misi-misi vital dan berbahaya.

Salah satu dari keberhasilan dari unit-unit kecil pasukan Jerman adalah perebutan benteng pertahanan Belgia, Fort Eben-Emael. Benteng yang memiliki luas 900 meter kali 700 meter ini merupakan benteng yang dirancang agar mampu bertahan dari berbagai bentuk serangan musuh. Benteng ini dilengkapi dengan kubu-kubu meriam, senapan mesin, lubang anti tank, dan banyak rintangan lainnya serta dijaga lebih dari 1000 pasukan. Namun, benteng ini berhasil direbut oleh kurang dari 100 orang prajurit saja dan dalam waktu yang relatif singkat. Adalah divisi pasukan payung dari Lutwaffe, angkatan udara Jerman, yang menjalankan misi tersebut di bawah komando Letnan Rudolf Witzig.

Inti dari serangan ini adalah menyerbu langsung ke dalam benteng dan menghancurkan pertahanan musuh. Dengan menggunakan pesawat peluncur (glider) dan penyemprot api, 80 pasukan payung Jerman yang diturunkan di atap benteng berhasil menerobos masuk dan melumpuhkan benteng tersebut beserta para penjaganya. Dalam hal ini, penggunaan pesawat peluncur dan penyemprot api merupakan sesuatu yang revolusioner. Sebuah cara baru yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh pihak manapun. Keberhasilan pasukan Jerman dalam merebut benteng ini melapangkan jalan Jerman untuk melakukan invasi lebih jauh ke Belgia dan Belanda.

Satu kisah yang tidak kalah terkenalnya adalah kisah penyelamatan Mussolini oleh Kapten Otto Skorzeny, seorang perwira Jerman kelahiran Austria. Dengan gagah berani Skorzeny bersama beberapa anggotanya membebaskan Mussolini yang ditawan di atas gunung oleh raja Italia sendiri. Banyak kalangan militer menyebut kisah penyelamatan ini sebagai salah satu kisah romantik dari Perang Dunia II, sekaligus yang paling heroik.

Namun hingga sedemikian jauh, unit-unit kecil pasukan semacam itu belum diorganisasikan dalam sebuah kesatuan tersendiri. Pasukan-pasukan ini masih dibentuk secara temporer–ketika ada misi penting yang mendesak untuk dilakukan–sementara pola pelatihan dan perekrutannya belum mengacu pada standar atau kualifikasi tertentu seperti yang lazim digunakan pada masa-masa sekarang ini.

Ini menyisakan persoalan tersendiri terutama karena tanpa adanya pasukan khusus yang bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu, maka pelaksanaan misi-misi vital akan terhambat. Dalam misi perebutan Frot Eben-Emael, misalnya, Jerman harus melakukan latihan intensif selama enam bulan. Sungguh sebuah pemborosan waktu, belum lagi jika rencana tersebut bocor sehingga dipastikan serangan semacam itu akan mengalami kegagalan karena tercium oleh musuh.
Namun, untunglah kelemahan ini berhasil dijawab Inggris dengan menciptakan unit pasukan khusus tersendiri. Pasukan khusus dalam pengertian dan sifat seperti yang lazim kita lihat sekarang ini; sebuah pasukan yang mendapatkan latihan intensif, berdiri sendiri, dan siap ditugaskan kapan pun.

Pada tahun 1941, dalam suasa Perang Dunia II, seorang opsir Inggris bernama David Striling memelopori pendirian Special Air Service (SAS). Pada awalnya, SAS merupakan resimen penyerbu yang beroperasi di gurun Afrika Utara. Tugas utamanya waktu itu adalah melakukan sabotase dan merusak suplai logistik tentara Jerman.

Sukses pertama pasukan ini terjadi tidak lama sebelum didirikan, tepatnya pada bulan Desember 1941, ketika dua grup pasukan ini berhasil menyusup ke pangkalan udara dan menghancurkan 61 pesawat milik Jerman. Di Eropa, pasukan ini juga memperoleh kesuksesan. Banyak sumber menyatakan bahwa selama beroperasi di Eropa, SAS berhasil menebarkan banyak kerugian bagi pihak Jerman. Mereka berhasil menawan banyak prajurit, menghancurkan kendaraan tempur musuh, dan merusak rel kereta api untuk memotong jalur transportasi pasukan Jerman.
Seperti yang sudah-sudah, kesuksesan SAS ini juga menginspirasi banyak negara untuk membentuk pasukan khususnya sendiri. Pada pertengahan tahun 1942, Amerika membentuk pasukan Ranger disusul kemudian dengan unit-unit pasukan khusus lainnya.

Pada tahun 1947-an, giliran Belgia mendirikan unit pasukan khusus, Prancis pada awal dekade 1950-an, Belanda pada tahun 1950-an, sementara Indonesia 16 April 1952.
Kini, baik organisasi, senjata, taktik, maupun ruang lingkup operasi dari pasukan semacam ini telah berkembang luas dan kian rumit. Beberapa ciri awal seperti kerahasiaan, mobilitas, dan kemampuan melakukan serangan mendadak masih terus dipertahankan.

Sementara pola rekrutmen, standar latihan, dan persenjataan terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan kondisi, namun dengan masih mengikuti pola-pola awal. Yang berubah secara drastis barangkali adalah ruang lingkup operasi di mana pasukan khusus saat ini lebih dititikberatkan untuk menjadi pasukan kontra terorisme, meski tidak kehilangan kemampuan tempur utamanya.

di ambl dari buku “INDONESIAN SPECIAL FORCE-PASUKAN KHUSUS INDONESIA”
segera terbit.

http://www.facebook.com/notes/mata-padi/perang-dunia-dan-kelahiran-pasukan-khusus/10150230184410553

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: