Kemampuan Baca Kunci Sukses Akademik Anak

Begitulah tesis Guru Besar Psikologi Prof. Amitya Kumara.

Arfi Bambani Amri

VIVAnews – Kelancaran membaca menjadi dasar kesuksesan akademik anak. Anak-anak yang terampil membaca sejak usia dini dan selalu dipaparkan dengan bahan cetakan akan memiliki rasa ingin lebih besar, dan selalu ingin memperluas pengetahuannya.

Sebaliknya anak-anak yang lambat dalam penguasaan keterampilan membaca, lebih jarang mendapat latihan membaca dibandingkan teman sebaya sehingga akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan membaca dengan lancar.Tesis itu diungkapkan Prof. Dr. Amitya Kumara, M.S., saat dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, di ruang Balai Senat, Yogyakarta, Kamis 27 Mei 2010.

Dalam pidato “Mengasah Keterampilan Membaca Pada Anak Melalui Belajar Atau Bermain”, Koordinator Bidang Pendidikan Program Magister Profesi Psikolog UGM mengungkapkan tidak jarang ditemukan ketidaklancaran membaca disebabkan karena kepada anak selalu dipaparkan materi bacaan yang terlalu canggih dan tidak sebanding dengan kemampuan mereka. Akibatnya pada diri anak-anak tumbuh sikap dan motivasi negatif terhadap tugas membaca itu sendiri.

“Proses ini disebut Matthew effect. Artinya ketidaklancaran membaca berdampak pada kegagalan anak dalam menguasai area akademik lainnya. Kegagalan ini semakin diperparah seiring anak tersebut naik jenjang kelas,” ujar Amitya Kumara dalam laman UGM.

Kemampuan Baca di Kelas 2 SD

Perempuan kelahiran Yogyakarta 25 Februari 1960 ini mengamati bahwa ketidaklancaran membaca yang muncul di tahun pertama dan kelas dua SD sering tidak terdeteksi oleh guru. Guru cenderung menganggap hal tersebut sebagai hal yang wajar. Sementara dalam pandangannya justru disinilah sesungguhnya titik awal kekompleksan masalah.

“Kebanyakan ketidaklancaran membaca baru dianggap masalah ketika anak sudah duduk di kelas 3 atau 4 SD, ketika mereka dituntut untuk mempelajari dan menguasai materi ajar,” ujarnya.

Pada jenjang ini, kata Amitya, anak-anak sudah tidak dilatih untuk bisa membaca. Anak diharuskan sudah bisa membaca dengan lancar dan memahami apa yang dibacanya.

“Anak yang mengalami ketidaklancaran membaca di kelas-kelas awal umumnya akan mengalami kesulitan yang sama di kelas selanjutnya. Pada tingkat kelas ini, anak dianggap bermasalah jika tidak dapat memahami pelajaran, tidak dapat menjawab pertanyaan, dan sering gagal dalam mengerjakan soal ulangan,” ujarnya.

Anak-anak tersebut bukannya tidak berusaha. Fakta kemampuan mereka untuk menerima dan memahami pelajaran yang diberikan guru tidaklah sebaik anak-anak pada umumnya. Mereka sesungguhnya memerlukan lebih banyak waktu dan kesempatan berlatih untuk menyamakan langkah dengan anak-anak pada umumnya.

Dalam kondisi seperti ini, guru seringkali menganggap mereka bermasalah, karena perilaku mereka mengganggu proses pembelajaran. Misalnya tidak bisa duduk tenang, tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan belajar, tidak mencatat, tidak mengerjakan PR dan tidak tuntas mengerjakan tugas sekolah. Di lain pihak sesungguhnya perilaku negatif tersebut muncul karena adanya perasaan tidak mampu dan tidak percaya diri.

“Dengan kata lain perilaku negatif merupakan kompensasi dari perasaan-perasaan negatif yang terkait dengan rendahnya motivasi anak untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Anak-anak yang mengalami kesulitan membaca ini juga memiliki masalah dalam memotivasi diri sendiri,” ujar dosen tamu Program Pascasarjana di sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta itu.

Menurut Amitya peran dan kedudukan orang tua sangat signifikan dalam perkembangan kemampuan berbahasa anak. Bahwa kualitas interaksi anak dan orangtua terbukti meningkatkan kemampuan ketepatan gramatika dan merupakan faktor yang signifikan bagi pertumbuhan kemampuan berbahasa.

“Lingkungan berperan mengaktifkan perkembangan bahasa. Dikarenakan untuk mewujudkan perkembangan bahasa yang baik dibutuhkan ‘bahan’ yang baik dan lingkungan yang menopang perkembangan bahasa,” ujar penulis “Peran Aktif Orangtua Terhadap Ekspresi Tulis Anak” pada Jurnal Psikologi tahun 1999 ini.
• VIVAnews

Satu Tanggapan

  1. Assalamu ‘alaikum mas,

    Saya abis mampir di BLog mas, wahh.. sangat bagus dan bermanfaat apalagi seperti pemula kayak saya.

    Dan betapa senangnya apabila mas, mau juga mampir di BLog saya😀

    Ini alamat blog terbaru saya http://baru2.net

    Salam kenal,
    Dedy Kasamuddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: