PERAN HISTORIS INTELIJEN ANGKATAN LAUT

Penulis: Adi Patrianto Singgih

Bagaimana mendeteksi, mencegah dan menangkal sedini mungkin setiap ancaman yang akan mengganggu keamanan dan kedaulatan negeri kita?

Jawabannya sederhana, itulah tugas unit intelijen yang juga dikenal sebagai organisasi mata-mata, spionase atau dinas rahasia.

Tak dapat dipungkiri, bahwa peran dan profesionalisme para operator lapangan dari unit atau satuan intelijen dapat menjadi penentu bagi keberhasilan sebuah pelak-sanaan tugas di suatu wila-yah operasi. Contoh profesionalisme seorang operator intelijen tampak pada sosok Eli Cohen alias Kamil Amin Taabes yang dijuluki Mata Mata Terhebat di Dunia.

Eli Cohen adalah seorang agen rahasia Mossad (Badan Intelijen Israel) yang berhasil mengelabuhi berbagai kalangan di lingkungan Angkatan Bersenjata Suriah dan berhasil mendapatkan informasi penting tentang rahasia kekuatan Suriah di Dataran Tinggi Golan, di perbatasan Israel-Suriah, menjelang Perang Enam Hari 1967.

Atau, tentang sosok Harold (Kim) Philby mantan pejabat tinggi MI6 (Dinas Intelijen Inggris) yang ternyata juga agen rahasia KGB (Dinas Intelijen Uni Soviet) dan berhasil mem-bocorkan berbagai informasi rahasia dari Amerika dan Inggris ke telinga Uni Soviet.

Keduanya ha-nyalah sekelumit dari sejarah panjang peran intelijen di dunia, baik saat dalam keadaan perang, atau damai. Meskipun demikian, kita juga jangan lupa bahwa keberhasilan mendeteksi dan memonitor kekuatan pertahanan musuh, tidak semata di-dominasi kemampuan individual semata, walau pada prakteknya di lapangan peran individu sangat berpengaruh.

Namun sebagai bahan analisa mengenai kondisi daerah operasi dan kekuatan musuh, tentu dibutuhkan sebuah institusi intelijen yang terpadu dan didukung profesionalisme para personelnya sesuai bidang keahlian masing-masing.

Seakurat dan sebagus apapun data masukan yang diberikan oleh para operator lapangan, namun jika tidak dikaji dan dianalisa dengan baik oleh lembaga intelijen penerimanya (sebagai ko-mando atasnya) maka semua akan sia-sia saja, bahkan dapat berakibat fatal bagi negaranya. Sejarah membuktikan bahwa organisasi intelijen (operator lapangan, analis data dan institusi) me-rupakan bagian penting dalam sebuah sistem per-tahanan dan keamanan negara.

Salah satu bagian di dunia intelijen yang memiliki dinamika tidak kalah menariknya adalah Intelijen Angkatan Laut. Medan operasi atau palagan yang bersifat kemaritiman memiliki kondisi yang berbeda dengan daratan. Disini tidak dijumpai adanya komunitas urban (perkotaan), hutan lebat atau per-bukitan, namun lebih sering dijumpai aspek alami-ah, seperti kondisi oseanografi yang berubah-ubah dan berbeda-beda, perubahan cuaca yang cepat, disamping tentunya medan yang sangat terbuka. Selain itu bagi sebuah negara kepulauan atau wilayah dengan hamparan pulau besar kecil di perairannya, memiliki aspek geo-strategi dan geo-grafis tersendiri.

Intelijen AL adalah intelijen yang bertujuan untuk mendapatkan informasi intelijen mengenai mandala laut, lawan dan bakal lawan beserta aktifitasnya guna menunjang terseleng-garanya operasi laut, tempur laut dan operasi laut sehari-hari. Intelijen merupakan bagian dari intelijen maritim. Hampir di setiap negara yang memiliki pantai memiliki unit intelijen AL. Oleh sebab itu, intelijen AL telah memiliki peran historis yang hampir sama usianya dengan negaranya.

Intelijen AL Dari Masa Ke Masa

Minimnya data dan informasi tertulis mengenai peran unit intelijen AL dalam berbagai catatan historis memang menjadi kendala, jika ingin mengetahui secara detail bagaimana unit-unit intelijen AL menghimpun informasi tentang kondisi kemaritiman dan kekuatan angkatan laut suatu bangsa. Namun meskipun demikian, kita dapat mengetahui eksistensi dan peran mereka dengan cara menganalisa sebuah kronologi peristiwa sejarah.

Singkatnya, untuk mengetahui peran unit-unit intelijen AL adalah melalui hasil kerja mereka, seperti kelengkapan data dan informasi kema-ritiman, keakuratan data tentang posisi strategis lawan dan sejenisnya.

Secara institusional memang unit intelijen AL terbentuk sejalan dengan munculnya negara-negara modern yang telah mengembangkan kekuatan armada lautnya hingga mencakup antar negara. Sehingga dengan demikian kepentingan mereka pun tidak lagi sebatas yang ada di dalam negerinya saja, namun telah mencapai tahapan internasional. Meskipun demikian, bukan berarti peran intelijen AL baru muncul setelah memasuki era modern saja, namun jauh sebelum itu.

Penemuan kapal-kapal layar dan dayung yang mampu menjelajah samudera pada akhirnya melahirkan penemuan jalur-jalur pelayaran baru. Penemuan tersebut selanjutnya dibuat dalam bentuk peta-peta pelayaran, lengkap berikut data-data kemaritiman setiap daerah yang telah dilalui, seperti arah mata anginnya, kota atau pemukiman penduduk di pesisir dan bahkan memuat tentang kekayaan alam daerah-daerah tersebut.

Semua data tersebut kemudian dikumpulkan dan dibukukan oleh para penulis kerajaan yang selanjutnya men-jadi koleksi nasional. Berbekal data-data itulah, para penguasa kerajaan dan saudagar-saudagar antar negara berhasil mengembangkan hubungan da-gang dan diplomatik dengan “negeri-negeri baru”. Dampak negatif dari semua ini memang berujung pada penguasaan dan pengambil-alihan paksa sebuah wilayah pesisir yang memiliki aspek strategis dan ekonomis tinggi.

Informasi yang lengkap tentang kondisi ke-maritiman suatu daerah, bukan hanya dibutuhkan untuk kepentingan ekonomi dan politik belaka namun juga untuk kepentingan pertahanan. Pertempuran Laut Salamis (480 SM) yang melibatkan AL Yunani dan Persia, telah memberikan informasi kepada kita mengenai peran unit intelijen AL di era kerajaan-kerajaan kuno.

Pada peristiwa yang berhasil mengubur ambisi Persia untuk me-naklukkan tanah Yunani tersebut, armada laut Persia masuk perangkap (killing ground) yang telah dipersiapkan oleh armada Yunani, yaitu di Selat Salamis, selat sempit yang memisahkan daratan Yunani dengan sebuah pulau kecil.

Menyadari ke-kuatan armada kapal perang Persia lebih banyak ketimbang jumlah kapal perangnya, Yunani menerapkan strategi memancing armada musuh masuk ke selat dan menghindari pertempuran di laut terbuka. Strategi tersebut berhasil dan armada Persia masuk ke Selat Salamis dengan resiko memecah kekuatan menjadi dua dan menggerakkan kapalnya dalam formasi berjajar satu persatu, karena terhalang pulau kecil. Manuver tersebut berakibat fatal, armada Persia dihancurkan dengan mudah oleh Yunani.

Keberhasilan Yunani tersebut karena mereka telah menghimpun sebanyak mungkin data hidrografis di wilayah perairannya. Mungkin itulah peran intelijen AL yang pertama dalam catatan sejarah untuk kepentingan pertahanan dan operasi tempur laut.

Sementara itu, peran intelijen AL untuk kepentingan strategi dan taktik perang laut tampak pada keberhasilan AL Kerajaan Inggris saat mengalahkan AL Spanyol di Pertempuran Laut Selat Channel (Calais) 1588. Inggris berhasil membaca strategi dan taktik perang laut yang biasa digelar oleh Spanyol melalui catatan-catatan sejarah Eropa yang dimilikinya.

Kondisi serupa juga tampak ketika AL Kekaisaran Jepang berhasil mengalahkan Skuadron Pasifik Kedua Rusia pada Pertempuran Laut Tsushima 1905. Armada Jepang berhasil menghimpun berbagai informasi strategis kemaritiman di perairan sekitar Vladivostok, Rusia, yang berseberangan dengan teritorial Jepang, serta kekuatan AL Rusia.

Melalui data tersebut, Jepang berhasil memperkirakan jalur-jalur yang mungkin akan dilalui berikut kemampuan tempur kapal perang Rusia. Unit intelijen AL yang terorganisir rapi, teratur, profesional dan terpadu, serta didukung berbagai peralatan canggih dan memiliki akses tak terbatas diawali oleh AL Amerika Serikat di tahun 1882 dengan membentuk Office of Naval Intelligence (ONI). ONI bertugas untuk memantau per-kembangan AL dunia khususnya di negara-negara yang bermusuhan dengan Amerika, serta menjaga fasilitas dan peralatan tempur AL Amerika dari kemungkinan aksi mata-mata dan sabotase tidak terbatas yang ada di kontinen Amerika, namun hingga ke seluruh dunia.

Peran unit-unit intelijen AL walaupun tidak banyak tercantum dalam catatan sejarah, namun jasanya sungguh besar. Satuan intelijen AL menjadi sangat menonjol dan secara institusional mulai menjadi suatu kebutuhan yang harus ada justru ketika Perang Dunia Kedua (1939-1945) di Eropa, Afrika dan Asia berkecamuk.

Pada periode ini, Pada awal perang dunia kedua, setidaknya 3 negara telah menempatkan intelijen AL sebagai sumber informasi yang menjadi bahan pertimbangan para pang-lima, komandan dan pimpinan pasukan dalam me-nerapkan strategi dan taktik perangnya, yaitu Kerajaan Inggris, Kekaisaran Jepang dan Amerika Serikat. AL Nazi Jerman (Kriegsmarine) sesung-guhnya juga memiliki kemampuan intelijen AL yang “mumpuni”, namun sayangnya kurang begitu men-dapat perhatian serius dari pimpinan Angkatan Bersenjata Jerman, karena lebih memfokuskan diri pada kemampuan di darat dan udara.

Salah satu bukti kehandalan intelijen AL Jerman adalah ketika kapal selam mereka U-47 berhasil menyusup ke Pangkalan AL Inggris di Teluk Scapa Flow, Scotlandia Inggris, dan menenggelamkan kapal perang Inggris HMS Royal Oak di pangkalannya sendiri. Semua berkat informasi yang akurat dan detail dari para operator lapangan intelijen AL Jerman, yang bahkan memuat data berapa kecepatan arus dan waktu pasang surut di perairan Scapa Flow.

Palagan Pasifik, yang sebagian besar terdiri atas perairan (laut, samudera, laguna) dan sebaran pulau-pulau berbagai ukuran, tampaknya memberikan pelajaran dan hikmah berharga bagi perkembangan intelijen AL ke depannya. Salah satu dampak dari pengumpulan data maritim yang terburu-buru dan terkesan serampangan, tampak ketika Amerika hendak menggelar serangan amfibi ke Pulau Tarawa, mereka mengandalkan data hidro-grafis dari Inggris (mantan kolonialis di Tarawa se-belum diduduki Jepang) peninggalan akhir abad ke-19.

Amerika enggan mengirimkan satuan intai amfibinya untuk melakukan pengamatan dan survey hidrografis ke Tarawa, karena dipandang hanya akan memperlambat gerakan mereka untuk menguasai kembali Pasifik.

Akibatnya fatal, pasukan Marinir Amerika terjebak pasang surut di Laguna Tarawa dan menjadi “bulan-bulanan” pasukan Jepang yang telah menantinya di pantai. Walaupun Amerika memenangkan Pertempuran Tarawa 1943, namun harga yang harus dibayar mahal sekali.

Sementara bukti kerjasama antar institusi intelijen yang baik dan dukungan perangkat teknologi yang memadai, tampak dari keberhasilan intelijen AL Amerika dalam melacak jalur pener-bangan yang akan dilalui Panglima AL Jepang Laksamana Isoroku Yamamoto, walau dirahasiakan dengan ketat oleh Jepang. Panglima AL Jepang tersebut gugur, setelah pesawat Mitsubishi G4M-nya ditembak jatuh oleh pesawat-pesawat tempur Amerika di Bougainville, Papua, 1943.

Peran penting intelijen AL tidak hanya tampak saat Perang Dunia Kedua, namun dalam perkem-bangan selanjutnya terus menjadi institusi strategis yang dibutuhkan oleh angkatan laut dan komponen-komponen angkatan bersenjata lainnya. Pada perkembangan terkini, intelijen AL telah tumbuh menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dari intelijen nasional suatu negara pantai atau maritim.

Intelijen AL di Indonesia

Terbentuknya institusi intelijen AL di Indonesia tidak lepas dari sejarah kelahiran TNI Angkatan Laut, yang lahir di tahun 1945 dengan BKR Laut. BKR Laut kemudian berkembang menjadi TKR Laut hingga akhirnya menjadi ALRI. Intelijen di lingkungan TNI AL sudah ada pada setiap kesatuan sejak masih bernama BKR Laut. Lingkupnya tentu saja pada tataran intelijen taktis yang memantau kondisi musuh, medan dan lingkungan alamiah sekitarnya untuk kepentingan operasi-operasi kesatuan angkatan laut baik yang berjuang di mandala laut maupun di pedalaman sebagai bagian dari perang gerilya.

Keberhasilan sejumlah ekspedisi lintas laut seperti di Bali dan Kalimantan Selatan yang berhasil menyusun kekuatan bersenjata di kedua tempat itu adalah berkat keberhasilan satuan intelijen angkatan laut baik dalam penyelidikan kekuatan, konsentrasi dan gerak patroli laut Belanda; pengamanan personel, sarana dan prasarana operasi; serta penggalangan kepada masyarakat pantai baik di daerah persiapan maupun di daerah sasaran.

Dalam menghadapi tekanan militer dan blokade total Belanda, satuan-satuan intelijen AL ALRI menghimpun berbagai informasi berharga mengenai kondisi perairan di berbagai daerah yang dihimpun dari kalangan nelayan, pedagang dan sebagainya. Berkat informasi tersebut, ALRI berhasil menyusun pangkalan atau basis yang relatif ter-lindung dan jauh dari pemantauan Belanda. Selain itu, ALRI juga berhasil melaksanakan berbagai operasi lintas laut menembus blokade Belanda dengan kapal-kapal cepatnya berkat dukungan informasi kondisi hidrografis perairan yang men-jadi wilayah operasinya.

Ketika tercapai pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Kerajaan Belanda tahun 1949, tantangan satuan intelijen AL ALRI pun kian kompleks. Karena walau era perang kemerdekaan telah berakhir, bukan berarti kondisi keamanan pulih seketika. Banyak pemberontakan dari daerah-daerah yang tidak puas dengan kebijakan Pemerintah Pusat, maraknya kelompok-kelompok separatis dan anti-Indonesia, aksi-aksi ilegal bermediakan laut, serta masih bercokolnya kekuatan militer Belanda di Irian Barat.

Semua itu membutuhkan kehadiran unsur-unsur Angkatan Perang RI, termasuk ALRI, di wilayah-wilayah konflik dan rawan keamanannya. Guna mampu mendaratkan pasukan dengan meminimalkan jumlah korban dan dapat memecah kekuatan musuh, maka ALRI membutuhkan informasi intelijen maritim yang detail.

Keakuratan data intelijen AL yang diterima ALRI memungkinkan dilakukan operasi pendaratan amfibi dengan aman di beberapa wilayah yang dikuasai kelompok separatis saat Operasi Merdeka dan Operasi 17 Agustus digelar di Sulawesi dan Sumatera.

Peran intelijen AL menjadi kian penting ketika dilakukan konfrontasi dengan Belanda untuk merebut kembali Irian Barat yang dikenal sebagai Komando Pembebasan Irian Barat Trikora. Minimnya data kemaritiman di wilayah Irian Barat menjadi tantangan tersendiri bagi satuan-satuan intelijen AL.

Kondisi serupa juga digelar di wilayah perairan Malaysia, Singapura dan Kalimantan Utara ketika berlangsung konfrontasi dengan Inggris dalam rangka Dwikora. Demikian juga ketika menjelang digelarnya Operasi Seroja di Timor Timur tahun 1975, unit-unit intelijen AL melaksanakan berbagai operasi pengintaian dan survey hidrografis di perairan sekitar Tim-Tim.

Pengerahan satuan-satuan intelijen AL TNI AL untuk kepentingan per-tahanan dan keamanan nasional tidak terbatas di wilayah-wilayah konflik saja, namun juga di wilayah yang memiliki kerawanan tinggi, seperti penyelundupan, pencurian hasil laut, perompakan, pembajakan dan sejenisnya.

Tantangan Intelijen AL di Masa Datang

Dalam menjalankan fungsinya selaku institusi intelijen di bidang kemaritiman, Intelijen AL TNI AL dihadapkan pada tantangan tugas yang jauh lebih kompleks di masa kini dan akan datang. Pada masa kini, ancaman gangguan stabilitas keamanan yang berpotensi menjadi ancaman bagi kedaulatan serta keutuhan NKRI, tidak lagi berupa “ancaman nyata”, seperti pengerahan kekuatan militer asing atau kemungkinan menginvasi negara lain. Namun, lebih berupa ancaman yang bersifat asimetris, seperti kejahatan trans-nasional, konflik horizontal dan terorisme.

Tantangan terberat bagi Intelijen AL TNI AL tidak terbatas mendeteksi, mencegah dan menangkal sedini mungkin terjadinya aksi kriminal di laut dan pesisir pantai, namun lebih dari itu, yaitu mampu menghimpun seoptimal mungkin informasi kemaritiman (seperti kondisi hidro-oseanografis di tiap daerah, kondisi sosial ekonomi masyarakat pulau terpencil dan terisolir, hingga pulau atau perairan yang belum terpetakan).

Sementara itu di sisi lain, Intelijen AL TNI AL juga harus mampu memberdayakan dan memobilisir berbagai potensi pertahanan-keamanan nir militer serta menjalin kerjasama intelijen dengan satuan-satuan di luar TNI AL (TNI AD, TNI AU, Polri) dan aparat penegak hukum lain seperti Bea Cukai, Kejaksaan, Departemen Kelautan dan Perikanan, termasuk juga dengan negara-negara sahabat.

Komponen nir militer yang diharapkan akan mampu membantu pelaksanaan tugas intelijen AL, antara lain nelayan lepas pantai, masyarakat pesisir, aparat sipil pemerintahan daerah, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi kepemudaan, seperti Pramuka dan Resimen Mahasiswa.

Masalah penyiapan sumberdaya yang memadai juga selayaknya dilakukan oleh Intelijen AL TNI AL, baik manusia, logistik, keuangan maupun teknologi. Untuk dapat mengoptimalkan fungsi intelijen di lingkungan Intelijen AL TNI AL sangatlah dibutuhkan adanya komitmen yang kuat dari para pengambil kebijakan di lingkungan TNI AL, TNI, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Departemen Pertahanan RI.

http://www.tnial.mil.id/Majalah/Cakrawala/ArtikelCakrawala/tabid/125/articleType/ArticleView/articleId/930/PERAN-HISTORIS-INTELIJEN-ANGKATAN-LAUT.aspx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: