ISLAM KEKERASAN DAN DONGENG

Dunia Islam saat ini dipenuhi warna ‘kekerasan’, hampir seluruh komunitas muslim pada beberapa bagian dunia menampakkan diri dengan corak kekerasan. Mulai dari negara-negara bagian paling timur benua Afrika, sebagian Asia bahkan Eropa. Tampak contoh nyata dalam konflik yang melanda Sudan dan Nigeria, dimana kelompok yang mengaku ‘Islam’ dan ‘Kristen’ saling baku tembak. Pakistan juga ikut menyumbang corak kekerasan pada perebutan ‘elite politik’ ber-ideologi ‘muslim’ berikut konstituennya.

Indonesia juga tak kalah ikut-ikutan dengan menghadirkan kasus Bom Bali seri I dan II, Perusakan hotel JW Marriot dengan ‘Bom Bunuh Diri’. Wilayah Selatan Philipina juga ‘diteror’ oleh Abu Sayyaf pimpinan MILF (Moro Islamic Liberty Front). Sementara di benua Eropa Timur khususnya negara bekas Uni Soviet gerilyawan Chechen masih berseteru dengan tentara Rusia merebut kemerdekaan Chechnya. Dan yang tak pernah lekang diberitakan oleh media masa kabar terung peluru dan nyawa di Afghanistan, Irak dan Palestina.

@ link feed back Aida Khadijah

Betapapun tidak bisa gegabah menyimpulkan pola dan latar belakang warna kekerasan dan konflik tersebut, butuh kesabaran menganalisa dan memilah persoalan pokok sebagai penyebab utama atau pemicu konflik yang menyertainya. Menyatakan Islam identik dengan kekerasan bukan simpulan yang tepat, hanya banyak bukti menunjukkan pembenaran atas ‘jalan kekerasan’ sebagai pilihan aksi penyelesaian masalah internal maupun eksternal antar muslim (orang Islam) dengan lingkungannya. Sementara opini Global terlanjur melegitimasi ‘Islam berwarna Keras dan Kejam’.

Untuk melakukan ‘Evaluasi’ pada rona Islam saat ini perlu kiranya kita telaah Ajaran Islam, khususnya bagaimana Islam menyikapi konsep kekerasan . ‘Kekerasan’ yang menjadi dasar kajian diambil dari makna “ke·ke·ras·an n 1 perihal (yg bersifat, berciri) keras; 2 perbuatan seseorang atau kelompok orang yg menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain; 3 paksaan;” (dari Kamus besar Bahasa Indonesia). Pada akhir kajian kami akan menganalisa kasus-kasus kekerasan dengan subyek ‘muslim’ yang ada di ranah Indonesia.

Kekerasan dalam Islam

Tak disangkal bahwa beberapa ayat Al-Qur’an menyebut tentang kewajiban seorang muslim untuk berjihad mengangkat senjata atau berperang. Sedikitnya ada 20 ayat yang sering dijadikan landasan untuk mengangkat senjata atau berperang bagi seorang muslim. Ayat-ayat tersebut terdapat dalam Surat: Al-Baqarah (2): 190-193, 216, 224, Ali Imran (3): 157-158, 169, 195, An-Nisa (4): 101, 74-75, 89, 95, Al-Maidah (5): 36, 54, Al-Anfal (8): 12-17, 59-60, 65, At-Taubah (9): 5, 14, 29, Muhammad (47): 4, dan Ash-Shaff (61): 4.

Al Baqarah: 190

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” (QS 2 :190)
Dengan landasan 20 ayat tersebut kaum Orientalis (ori·en·ta·lis /oriéntalis/ n ahli bahasa, kesusastraan, dan kebudayaan bangsa-bangsa Timur atau Asia : dari KBBI Online) berasumsi bahwa Islam dengan kaum Muslimnya mempunyai polsa sosial yang mendukung kekerasan dan perang.

Justru di sisi lain dalam Al-Qur’an ada ayat yang menyerukan penegakkan perdamaian dan kasih sayang di muka bumi, salah satunya dalam Surat Az-Zumar 30:10 :

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. (QS. 39:10)
Serta ada ayat yang melarang Muslim berbuat ‘fasad’ atau kerusakan di muka bumi :

Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. 2:205)
Lebih dari itu secara ‘etymology’ kata ‘Islam’ sendiri mengandung arti damai, selamat, aman, dan penyerahan diri, sementara ada yang menafsirkan kata Islam mempunyai arti diambil dari kata ‘muslimuun’ yang artinya SALAM(A) yang disamakan artinya dengan SELAMAT.
Sementara dengan jelas ayat dalam Al-Qur’an menyatakan Muhammad (baca: Islam) diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam

Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), malainkan sebagai rahmat bagi semesta alam” ( Al Anbiyaa’: 107)
Berdasarkan ayat itu apapun bentuk perusakan di muka bumi ini tidak sesuai dengan nilai-nilai ‘rahmatan’ dalam Islam itu sendiri.

***

Lalu mengapa warna kekerasan tetap saja terjadi?
Menurut saya, ada tiga ‘psychological forces’ yang mendorong terjadinya
kekerasan oleh umat Islam:

1. Pada dasarnya dalam diri manusia ada dua kekuatan besar yang saling berlawanan. Disatu sisi manusia mempunyai ‘ego’ dan di sisi lain manusia di anugerahi ‘kesadaran’.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 12:53)
Seorang Ilmuan Islam dari India Wahiduddin Khan (n.d.) menjelaskan bahwa kekerasan muncul akibat dominasi ‘alter ego’ manusia; sedangkan, perdamaian adalah hasil dari kesadaran manusia untuk introspeksi diri serta penghargaan diri.

2. Setiap agama di muka bumi punya ‘klaim pembenaran’, secara langsung atau tidak. Ini merupakan satu sebab pengikisan toleransi untuk keberadaan agama lain.
Ayat Al-Qur’an: “Innaddiina ‘indallahil islam” dan “wama yabtaghi ghairal islami diinan falaa yuqbala minallahi…” adalah deklarasi tentang satu-satunya agama yang diakui oleh Allah itu semata hanya Islam. Pada sebagian umat Islam ada interpretasi bagi ayat ini secara kaku, hingga menyebabkan kehidupan dan keragaman jadi kurang harmonis. Padahal pada ayat lain Allah juga menjelaskan bahwa soal beragama Allah memberi kebebasan bagi pemeluk agama lain (laa ikraaha fid-dien).

3. Pemahaman terhadap ayat dan hadits secara parsial (terpotong-potong) menyebabkan daya pandang sempit terhadap Islam itu sendiri. Misalnya pemahaman akan hadits: ‘man ra’a munkaran fal yughayir biyadihi, wainlam yastati’ fabilisanihi, wainlam yastati’ fabiqalbihi, wazalika adh’aful iman’. Keyakinan bahwa derajat iman paling tinggi dalam hadits tersebut ; ketika ada keberanian merubah suatu kemungkaran dengan ‘tangan’ atau dengan laku fisik. Maka jalan yang dilakukan adalah menghentikan satu kemungkaran dengan aksi fisik bahkan kekerasan. Hal ini tentu saja menimbulkan bias pada konsep dasar dakwah Islam yang menonjolkan hikmah (kebijaksanaan) dan mauidzah hasanah
(nasihat-nasihat kebajikan)-(ud’u ilaa sabili rabbika bilhikmati wal mau idzhah hasanah).

Dalam sejarah Islam tercatat beragam bukti motivasi terjadinya kekerasan atau pecahnya peperangan. Pada jaman Rasulullah Muhammad SAW masih hidup, tujuan peperangan dilakukan untuk pertahanan diri dari serangan luar, kesetaraan, dan keadilan ekonomi.
Beberapa orientalis mengatakan bahwa selama Muhammad menjadi pemimpin Islam atau sepanjang era kenabiannya (23 tahun), Muhammad melakukan 80 kali peperangan.

Tentu saja simpulan orientalis disangkal oleh Wahiduddin Khan (n.d.) dan menyatakan bahwa Nabi kenyataan yang ada sepanjang era kenabiannya hanya menghimpun dan mengerahkan pasukan perang sebanyak tiga kali, disebutkan dalam catatan sejarah tentang perang Badr (Badar atau Besar), Uhud (pertempuran di bukit uhud), dan Hunayn (yang melahirkan sebuah perjanjian nan bijaksana). Jadi pada dasarnya Muhammad SAW berusaha untuk selesaikan masalah dengan perdamaian, bahkan berupaya sebisa mungkin untuk menghindari peperangan.


@Aida Khadijah

http://alisyarief.wordpress.com/2009/12/14/islam-kekerasan-dan-dongeng/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: