Perempuan Bekerja Rentan Selingkuh

Perempuan yang bekerja di instansi pemerintah, swasta, LSM, dan profesi apa pun, sangat rentan terlibat dalam sebuah hubungan terlarang (perselingkuhan).

Perempuan bekerja dimaksud di sini, tak hanya mereka yang tengah ngejomblo, melainkan juga perempuan yang sudah punya cowok, tunangan dan suami.

Tulisan ini true story. Bukan sekadar asumsi, analisis, prejudice, atau sebuah keinginan mendiskreditkan kaum perempuan yang akan, dan tengah merintis karier di tempatnya bekerja.

Berdasarkan hasil survei dan investigasi, yang saya lakukan di berbagai instansi pemerintahan dan swasta di kota tempat saya bermukim–salah satu kota paling beken dan glamour di luar Pulau Jawa–hasilnya sungguh mencengangkan sekaligus memprihatinkan.

Di setiap instansi/ perusahaan, dapat dipastikan terdapat 3 hingga 10 perempuan berstatus PNS atau karyawan pernah memiliki affair alias terlibat perselingkuhan.  Dan seringkali perempuan yang terlibat selingkuh itu diidentifikasi sebagai orang baik-baik dan menurut logika tak mungkin akan berperilaku macam-macam.

Buktinya mana ? Memberi bukti perselingkuhan, seperti lazimnya sangatlah sukar. Tapi tanpa bukti berupa video pun, biasanya perselingkuhan bisa dengan mudah terdeteksi, karena dia sudah menjadi rahasia umum.

Perempuan bekerja rentan selingkuh, biasanya disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, faktor hubungan atasan-bawah. Kedua, kondisi ekonomi. Ketiga, broken home. Keempat, lemahnya kualitas iman.

Hubungan antara atasan-bawahan rentan memicu selingkuh. Ingat, kasus Bill Clinton-Monica Lewinsky. Pola selingkuh seperti ini kerapkali terjadi dan lebih sering pula tersimpan rapi. Perempuan yang menjadi bawahan kerap tak kuasa menolak ajakan atasannya. Awalnya cuma menemani makan siang, lalu meningkat makan malam, selanjutnya ‘makan memakan’.

Kondisi ekonomi dan carut marut dalam kehidupan rumah tangga, juga banyak menjadi penyebab terjadinya selingkuh. Perempuan yang bekerja tak jarang punya suami pengangguran atau penghasilan lebih kecil, sehingga dirinya merasa perlu bekerja ekstra keras mencukupi kebutuhan keluarga.

Akhirnya sang istri yang bekerja ini sering terlibat curhat dengan teman kantornya atau berkeluh kesah soal kehidupan rumahtangganya yang selalu serba kekurangan. Ujungnya ada teman atau atasan mengulurkan bantuan uang.

Awalnya sih cuma memberi uang yang disebutnya ikhlas, tetapi lama-lama timbul perasaan berutang budi, sehingga tak kuasa menahan ajakan untuk BBS (bobok-bobok siang/ sore).

Tapi, inti dari semuanya terpulang kepada kualitas iman. Kalau imannya kokoh, dan setiap bekerja selalu ingat wajah anak-anaknya yang lucu-lucu dan ingat sudah punya suami/ cowok yang setia menunggu, perempuan bekerja di manapun tidak akan mungkin terlibat dalam perselingkuhan.

Dan, so pasti pula, di antara perempuan bekerja itu, sudah barang tentu masih lebih banyak lagi yang benar-benar bekerja dan tak pernah terlintas dalam benaknya untuk selingkuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: